Studi Awal tentang Sekolah Rumah KerLiP
oleh Irsyad Ridho
1. PENDAHULUAN
Mantan Menteri Pendidikan semasa Orde Baru, Daoed Joesoef, pernah menulis di harian Kompas tentang sekolah rumah. Artikelnya itu kemudian mendapat reaksi cukup keras dan ramai di salah satu blog pelaku sekolah rumah (Sufehmi 2008). Dalam tulisannya, Joesoef (2007) mengkritik sekolah rumah dengan menyatakan bahwa sekolah rumah “bisa merusak pertumbuhan anak [untuk] menjadi manusia yang bermasyarakat” dan dia menganggap bahwa pengembangan sosialisasi dan kewarganegaraan (citizenship) hanya dapat dilakukan dengan baik melalui sekolah formal. Meskipun di sisi lain dia mengakui pula bahwa sekolah rumah muncul sebagai reaksi terhadap kemerosotan mutu sekolah formal, anehnya dia tidak menujukan kritik yang sama terhadap kemungkinan dampak buruk sekolah formal dari segi sosialisasi dan kewarganegaraan itu. Posisinya yang berat sebelah itulah—di samping lemahnya argumen sosialisasi dan kewarganegaraan yang dia tuduhkan pada sekolah rumah—yang kemudian menjadi salah satu pemicu reaksi yang cukup ramai berupa kritik balik terhadapnya.
Apa yang dikemukakan oleh Joesoef itu memang merupakan stigma yang sering diberikan orang kepada sekolah rumah meskipun beberapa penelitian telah memperlihatkan hal yang sebaliknya. Arai (1999), misalnya, memperlihatkan bahwa sekolah rumah juga berperan penting dalam pengembangan sikap kewarganegaraan yang multidimensional yang didasarkan pada prinsip-prinsip toleransi terhadap dan kerjasama dengan orang lain, resolusi konflik dengan cara yang non-kekerasan, argumen dan perdebatan yang rasional, environmentalisme, penghargaan atas hak asasi manusia, dan partisipasi dalam kehidupan kewargaan (civic life). Meskipun demikian, seperti yang bisa terjadi dengan sekolah formal, sekolah rumah pun tidak lepas dari kemungkinan untuk menjadi eksklusif dan mendorong sikap elitisme yang justru melemahkan pengembangan kewarganegaraan yang bisa berujung pada kemunduran upaya demokratisasi melalui pendidikan. Apple (2001), misalnya, ketika mengamati perkembangan sekolah rumah di Amerika, dia mendapati kenyataan tentang menguatnya kecenderungan eksklusivisme keagamaan melalui sekolah rumah. Menurutnya, hal itu dapat memperlemah sendi-sendi demokrasi di Amerika itu sendiri. Namun, karena dia juga mengakui bahwa sekolah rumah merupakan fenomena yang kompleks yang muncul sebagai reaksi terhadap berbagai persoalan buruk di sekolah publik di sana, Apple menyarankan bahwa sekolah rumah perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, yaitu dalam upaya pengembangan demokrasi. Dalam hal ini dia mengemukakan,
…there are clear elements of good sense in the home schooling movement’s criticism of the bureauctic nature of all too many of our institutions, in its worries about the managerial state, and its devotion to being active in the education of its children.… Of course, sometimes this criticism are unjustified or are politically motivated by undemocratic agendas. However, this must not serve as an excuse for a failure to open the doors of our schools to the intens public debate that makes public education a living and vital part of our democracy. (Apple 2001, 189-190)
Meskipun penelitian Apple (2001) dan Arai (1999) itu secara khusus berkenaan dengan sekolah rumah di Amerika Serikat, saya pikir keduanya tetap dapat memberikan orientasi yang cukup penting dan memadai untuk memulai penelitian tentang sekolah rumah di Indonesia yang perkembangannya masih relatif baru. Karena itu, mengikuti saran Apple di atas, dalam makalah ini saya berupaya untuk memahami fenomena sekolah rumah dalam kaitannya dengan aspek penting dalam demokrasi, yaitu pembentukan ruang publik, khususnya ruang publik dalam arena pendidikan. Untuk keperluan itu, saya akan menjelaskannya berdasarkan pengamatan dan keterlibatan saya terhadap/bersama sekolah rumah yang diselenggarakan oleh Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP). Saya memaksudkan makalah ini baru sebagai studi awal karena analisis saya masih terbatas pada data-data yang sempat saya peroleh dalam waktu yang relatif singkat. Saya berharap dapat memperdalamnya pada kesempatan selanjutnya. Dari data yang ada, saya melihat kemungkinan untuk memfokuskan analisis pada persoalan strategi wacana yang dilakukan oleh sekolah rumah KerLiP dalam upaya pembentukan ruang publik di arena pendidikan.
Gerakan Sosial Kritis Berbasis Keluarga yang berupaya mendorong pemenuhan hak hidup bermartabat terutama hak atas pendidikan dan perlindungan anak
Kamis, 16 Juli 2009
Senin, 29 Juni 2009
Sekepicung, 26 Juni 2009
Hari ini tak banyak warga belajar yang hadir, hanya ada Elis, Nurjanah, Aisyah, Maryam dan Ulfa. Namun, hal itu tidak mengurangi semangat kami untuk melaksanakan proses pembelajaran.
Saya memulai kegiatan dengan salam. Kemudian, saya meminta setiap warga belajar memilih dan menggambar 5 jenis hewan yang mereka sukai serta menjelaskan alasan mereka memilih hewan-hewan tersebut. Warga belajar pun diminta untuk memilih satu di antara 5 hewan tersebut yang paling mereka sukai dan sangat menggambarkan diri mereka.
Selanjutnya, satu-persatu warga belajar menjelaskan hewan-hewan yang mereka pilih. Dari sekian banyak alasan yang disampaikan, ternyata 5 orang warga belajar ini cenderung menjatuhkan pilihannya pada hewan-hewan yang mereka nilai lucu dan enak dilihat, seperti, kucing, ikan dan kupu-kupu. Sedangkan untuk hewan yang paling disukai dan cukup menggambarkan diri mereka, sebenarnya masing-masing warga belajar agak ragu dan bingung memilih. Hal ini dikarenakan mereka tidak mau mengasosiakan diri mereka dengan hewan tertentu dan merasa tidak banyak memiliki kesamaan dengan hewan tertentu. Namun akhirnya, mereka pun memilih satu hewan yang cenderung bisa menggambarkan diri mereka, seperti singa untuk menggambarkan diri pemberani atau ikan untuk menunjukkan kekuatan sikap.
Kegiatan selanjutnya dipandu Ova. Ia mengingatkan semua warga belajar, bahwa pada setiap kegiatan hari Jumat seperti sekarang, setiap warga belajar diminta untuk menceritakan aktivitas mereka selama seminggu kemarin. Meski kegiatan bercerita ini sering dilakukan, tetap saja sebagian warga belajar tampak bingung dan enggan bercerita. Seperti itu pula yang terjadi pada hari ini, beberapa orang warga enggan bercerita. Namun, setelah beberapa di antara mereka mulai bercerita, akhirnya semua warga belajar turut bercerita meski tidak terlalu banyak yang mereka ceritakan. Walaupun demikian, kami merasa senang ketika mendengarkan cerita mereka satu-persatu dan beberapa di antaranya mulai menyebutkan beberapa pengalaman yang menarik bagi mereka.
Di samping bercerita, ada juga warga belajar yang ’setor karya’. Elis dan Ulfa menyampaikan cerpen karya mereka. Hasil tulisan keduanya ini dibacakan juga di hadapan kami. Kemudian setiap dari kami dipersilahkan untuk memberi kritik dan masukan pada dua karya hasil teman-teman ini.
Kegiatan pun berakhir setelah Ova menutupnya dengan salam dan doa. Ternyata jumlah sedikit tidak mengurangi semangat kami untuk terus berkegiatan. (izoel)
Sekepicung, 24 Juni 2009
Beberapa hari yang lalu, Bu Dewi isteri Pak Lala, pemilik rumah tempat kami melakukan pendampingan di daerah Sekepicung ini, menelepon saya untuk memberitahukan kepada para warga belajar bahwa kegiatan pembelajaran hari ini akan dilaksanakan di sebuah rumah milik Ibu Kusuma, salah seorang dosen senior ITB, yang berada di kawasan Ciburial. Saya pun langsung mewartakannya kepada beberapa orang warga belajar kabar tersebut. Sekarang sampai hampir setengah jam lewat dari pukul 14.00 WIB, saya masih menunggu semua warga belajar berkumpul. Baru menjelang Ashar, 9 orang warga belajar hadir di rumah belajar Bina Bakti Persada. Selanjutnya, kami berangkat menuju rumah Bu Kusuma, ditemani Pak Lala, Bu Dewi dan Bu Elis.
Sampailah kami di sebuah rumah yang cukup besar dikelilingi rindangnya pepohonan. Bu Kusuma, pemilik rumah itu menyambut kami dan mempersilahkan kami menggunakan salah satu sisi dari rumahnya untuk kami gunakan sebagai tempat kegiatan hari ini.
Saya memulai kegiatan dengan salam dan review kegiatan sebelumnya. Kemudian, warga belajar dibagi menjadi 3 kelompok yang terdiri dari 3 orang. Saya membagikan selembar kertas yang berisi beberapa hal yang harus dijawab dengan beberapa kemungkinan, yaitu, bisa berubah sedikit, bisa berubah banyak, bisa berubah semua atau tidak bisa berubah sama sekali. Contohnya agama, apakah warga belajar menilainya dapat berubah sedikit, dapat berubah banyak, dapat berubah semua atau tidak dapat berubah sama sekali.
Pada tahap awal, setiap warga belajar diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan itu masing-masing. Baru setelah itu mereka memberi jawaban kelompok dan membandingkannya dengan jawaban masing-masing.
Sekira 30 menit kemudian, masing-masing warga belajar telah membubuhkan jawabannya di kertas kosong. Tak lupa mereka pun memberi jawaban perkelompok. Dari 20 hal yang ditanyakan, ternyata paling banyak jawaban yang diberikan adalah ’tidak dapat berubah sama sekali’, baru setelah itu ’dapat berubah sedikit’ dan seterusnya.
Dari diskusi yang kami kembangkan dari jawaban-jawaban tadi, ternyata muncul kesimpulan bahwa, perubahan akan selalu terjadi baik sedikit atau banyak dalam segala hal dalam kehidupan ini. Kecuali pada hal-hal yang bersifat kodrati, seperti jenis kelamin, warga belajar menilainya tidak dapat berubah. Tentu saja perubahan itu sebisa mungkin harus menuju ke arah yang lebih baik.
Setelah memberikan refleksi dari proses pembelajaran yang telah dilalui, saya menutup kegiatan. Kemudian kami pun asyik berbincang-bincang sambil menikmati suguhan makanan dan minuman dari tuan rumah. Jazaakillah, Bu!
Langganan:
Postingan (Atom)