Tampilkan postingan dengan label MENUJU SEKOLAH RAMAH ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MENUJU SEKOLAH RAMAH ANAK. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juni 2009

Sekepicung, 24 Juni 2009


Beberapa hari yang lalu, Bu Dewi isteri Pak Lala, pemilik rumah tempat kami melakukan pendampingan di daerah Sekepicung ini, menelepon saya untuk memberitahukan kepada para warga belajar bahwa kegiatan pembelajaran hari ini akan dilaksanakan di sebuah rumah milik Ibu Kusuma, salah seorang dosen senior ITB, yang berada di kawasan Ciburial. Saya pun langsung mewartakannya kepada beberapa orang warga belajar kabar tersebut. Sekarang sampai hampir setengah jam lewat dari pukul 14.00 WIB, saya masih menunggu semua warga belajar berkumpul. Baru menjelang Ashar, 9 orang warga belajar hadir di rumah belajar Bina Bakti Persada. Selanjutnya, kami berangkat menuju rumah Bu Kusuma, ditemani Pak Lala, Bu Dewi dan Bu Elis.
Sampailah kami di sebuah rumah yang cukup besar dikelilingi rindangnya pepohonan. Bu Kusuma, pemilik rumah itu menyambut kami dan mempersilahkan kami menggunakan salah satu sisi dari rumahnya untuk kami gunakan sebagai tempat kegiatan hari ini.
Saya memulai kegiatan dengan salam dan review kegiatan sebelumnya. Kemudian, warga belajar dibagi menjadi 3 kelompok yang terdiri dari 3 orang. Saya membagikan selembar kertas yang berisi beberapa hal yang harus dijawab dengan beberapa kemungkinan, yaitu, bisa berubah sedikit, bisa berubah banyak, bisa berubah semua atau tidak bisa berubah sama sekali. Contohnya agama, apakah warga belajar menilainya dapat berubah sedikit, dapat berubah banyak, dapat berubah semua atau tidak dapat berubah sama sekali.
Pada tahap awal, setiap warga belajar diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan itu masing-masing. Baru setelah itu mereka memberi jawaban kelompok dan membandingkannya dengan jawaban masing-masing.
Sekira 30 menit kemudian, masing-masing warga belajar telah membubuhkan jawabannya di kertas kosong. Tak lupa mereka pun memberi jawaban perkelompok. Dari 20 hal yang ditanyakan, ternyata paling banyak jawaban yang diberikan adalah ’tidak dapat berubah sama sekali’, baru setelah itu ’dapat berubah sedikit’ dan seterusnya.
Dari diskusi yang kami kembangkan dari jawaban-jawaban tadi, ternyata muncul kesimpulan bahwa, perubahan akan selalu terjadi baik sedikit atau banyak dalam segala hal dalam kehidupan ini. Kecuali pada hal-hal yang bersifat kodrati, seperti jenis kelamin, warga belajar menilainya tidak dapat berubah. Tentu saja perubahan itu sebisa mungkin harus menuju ke arah yang lebih baik.
Setelah memberikan refleksi dari proses pembelajaran yang telah dilalui, saya menutup kegiatan. Kemudian kami pun asyik berbincang-bincang sambil menikmati suguhan makanan dan minuman dari tuan rumah. Jazaakillah, Bu!

Rabu, 19 November 2008

Pendidikan = sekolah atau tidak ya?

Hari ini, anak-anak kelas VII SMP Bhakti Nusantara belajar merangkai kata dalam kalimat. Minggu lalu mereka memilih tema pendidikan gratis, kesehatan gratis dan buku gratis untuk debat. Kelas dimulai dengan menggali visualisasi setiap anak tentang pendidikan. Kata-kata seragam paling banyak muncul, guru, kepala sekolah, murid, belajar, bangunan kotak, UUD sampai peraturan menteri tentang pendidikan, muncul juga dalam visualisasi mereka. Anak-anak mulai merangkai kata-kata tersebut untuk mendefinisikan ulang tentang pendidikan. Satu per satu membacakan definisinya. "Anak-anak ibu kan homeschooling, mereka menggunakan seragam jugakah?" Lutfi bertanya. "Apa yang Lutfi ketahui tentang cara anak-anak ibu menjalani pendidikan dengan model homeschooling?" Aku balik bertanya. Lutfi terdiam. "Tidak berseragam!" seru Hasna. Menyusul kemudian jawaban teman-temannya. "Apakah sekolah sama dengan sekolah?" tanyaku kepada anak-anak. Serempak mereka menjawab,"Tidak bu!". "Ayo kita buat tabel perbedaan antara sekolah, homeschooling dan pendidikan!" seruku lagi. "Adakah diantara kalian yang pernah membaca Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional?"tanyaku sambil berkeliling melihat tabel mereka satu per satu. "Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional itu apa Bu?'kudengar Novia bertanya. "Menurut Novia apa ya?"tanyaku lagi. "Pasti peraturan tentang pendidikan ya, bu"jawab Novia. "Ayo kita lihat!" Seruku. "Kebetulan ibu membawa print out halaman pertama Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional,"tambahku lagi. "Didikte aja bu!" Seru Bakhtiar. "Simak baik-baik dan tulis di buku kalian ya," kataku. BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan 1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Jumat, 05 September 2008

Jum'at , 4 September 2008

Tiba di kantor SMP Bhakti Nusantara 40 menit sebelum kelas dimulai, langsung menyapa Bu Wiwi, Bu Tuti, dan Bu Rini. Ada dua orang tak dikenal dengan tumpukan LKS di dekatnya. Bu Wiwi dengan senang hati mengikuti ajakan diskusiku tentang rencana pengembangan sekolah. Panduan beban kerja guru dan panduan yang diambil Bu Wiwi dari lemarinya menjadi bahan diskusi kami. Tidak lama kemudian datang Bu Ria dan Pak Ali menanyakan beberapa hal seputar homeschooling. Tim lengkap ini kuajukan untuk menjadi tim pengembangan sekolah ramah anak bersama Ibu Tuti dan kepala sekolah, Bu Aida.

Ternyata waktu belajar setiap jam dikurangi 10 menit. Hal ini berarti, anak-anak kelas VII tidak kutemani belajar karena jam istirahat sudah tiba. Akhirnya kulanjutkan diskusi tentang kemungkinan mengembangkan SPM Bhakti Nusantara menjadi sekolah ramah anak dengan model moving class.

Bel masuk sudah dibunyikan, anak-anak kelas VII sudah menunggu. Anak-anak sedang asyik menabuh ember bekas, bangku, meja dan alat lainnya sambil menyanyikan lagu-lagu yang populer saat aku tiba di kelas mereka. Guru Bahasa Inggris masih menyelesaikan pelajarannya. Rupanya ada sebagian anak yang tidak berisitirahat karena belum menyelesaikan hafalan mereka. Ibu Natalia kuajak diskusi tentang model pembelajaran yang tidak membebani anak dengan kewajiban menuntaskan buku pelajaran tertentu. Setelah bu Natalia keluar kelas kuikuti irama lagu yang dibawakan anak-anak. Kami pun menyanyi bersama. Beberapa anak menghampiriku untuk menanyakan beberapa hal tentang usaha mereka membuat pengumuman, laporan, cerpen dan cerita berantai secara berkelompok. Keempat materi tersebut kutulis di papan tulis. Sambil diiringi nyanyian murid laki-laki, beberapa anak membahas tentang pengumuman dan laporan. Kelompok 2 mencatat bahwa dalam pengumuman sekurang-kurangnya berisi sasaran pengumuman, kegiatan, waktu, dan penyelenggara. Kelompok yang menyusun laporan menyatakan bahwa isi laporan adalah fakta, opini, kesimpulan dan evaluasi (apa manfaatnya bagiku dan kelas kita). Kuminta anak laki-laki berhenti bernyanyi sejenak dan menjawab tawaranku. Dua murid perempuan menyediakan diri meminjam koran kompas hari ini ke rumah Ibu Aida.

Ada dua murid perempuan yang siap menganalisa model pengumuman di koran dan pemberitahuan dari sekolah kemudian membandingkan keduanya. Anak-anak lainnya lebih senang menulis lagu ciptaan mereka dan menyanyikan lagu populer lainnya. Monik adalah anak pertama yang menyanyikan dua lagu yang ditulisnya secara spontan. Kurekam momen berharga ini. Sambil menunggu kelompok pencipta lagu menyelesaikan tugasnya, kudampingi anak-anak yang menganalisa pengumuman. Tidak lama kemudian Rahma menyanyikan lagu ciptaannya sambil malu-malu duduk di bangkunya. Kurekam lagi. Faris memintaku untuk merekam kegiatan teman-temannya.

Trio pencipta lagu menyanyikan lagu ciptaan mereka disusul oleh duet bersuara emas di kelas VII. Duet ini juga membantu menyanyikan syair lagu ciptaan teman mereka yang begitu indah. Sementara itu, anak laki-laki masih asyik menyanyikan lagu populer. Akhirnya kuijinkan Bahtiar dan Ervan menyanyikan lagu Jackmania kesukaan mereka. Bahagianya mendampingi anak-anak kreatif ini berkarya dengan bahasa Indonesia kebanggaan mereka. Momen indah ini kurekam dengan HP.

Menjelang pulang, Pak Ali menyodorkan catatan pengajuan sistem penggajian baru dan memintaku untuk mengusulkan gaji dan transportku sendiri. Kutelpon Bu Aida untuk membahas rincian keuangan sekolah. Guru-guru sedang menunggu honor dan transport mereka di kantor. Kuajak Ibu Tuti untuk menemaniku ke rumah Bu Aida. Sambil menunggu Bu Aida siap, Bu Tuti menemaniku melengkapi rincian RAPBS yang sudah disampaikan kepada komite sekolah. Rupanya honor SDM di SMP Bhakti Nusantara masih dibawah UMP. Sumber penerimaannya pun sangat terbatas. Kuminta Bu Tuti untuk berkomitmen mengikuti RAPBS ini dan menjaga agar setidaknya sumber penerimaan untuk honor dan transport guru dipastikan tidak defisit. Bu Tuti kembali ke sekolah.

Program pengembangan sekolah terpaksa hanya dibahas berdua dengan Bu Aida. Pada prinsipnya, kepala sekolah antusias untuk mengembangkan SMP Bhakti Nusantara menjadi sekolah ramah anak. Kami berkomitmen untuk memikirkan dengan serius penggalian dana yang tidak membebani keluarga peserta didik terutama untuk perbaikan penghasilan guru. Kuusulkan untuk memberi tampahan honor 1 jam bagi guru yang mengumpulkan resume tindakan kelas dan tunjangan rapat khusus bagi Tim Pengembang Sekolah. Bu Aida tidak keberatan.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Akhir pekan di SMP Bhakti Nusantara 2

Laporan keuangan tahun pelajaran 2006/2007 dan 2007/2008 yang disusun Ibu Tuti sangat membantu untuk bahan penyusunan RAPBS 2008/2009. Adzan Subuh terdengar di kejauhan saat RAPBS berhasil disusun. Menuju sekolah ramah anak di SMP Bhakti Nusantara dimulai dengan keterbukaan dan dorongan agar keluarga berpartisipasi aktif dalam memantau, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi seluruh aspek yang diperlukan untuk mengembangkan diri anak-anak. Tepat pukul 07.15 aku tiba di rumah Kepala Sekolah. Bahan-bahan yang disiapkan seperti draft KTSP, RAPBS, Neraca RAPBS segera difotokopi oleh Pak Tisna. Ternyata ada kesalahpahaman. Orang tua siswa sudah lama menunggu di sekolah saat Ibu Rini menemuiku di rumah Bu Aida. Di gerbang masjid ada seorang ibu yang bergegas pulang dan menyatakan kekecewaannya karena sudah 90 menit menunggu. Lebih dari 20 orang berdiri di halaman aula Yayasan dan segera memasuki ruangan. Pertemuan diawali dengan beberapa informasi perkembangan anak-anak selama aku mengajar. Terlihat antusiasme beberapa orang tua yang berkomitmen untuk memantau perkembangan putra-putri mereka di rumah. Beberapa kasus yang mengindikasikan terjadinya bullying kupaparkan. Respon dari orang tua sangat menarik. Mereka cukup sabar untuk menahan keingintahuan tentang biaya yang biasanya disampaikan setiap pertemuan manajemen sekolah bersama orang tua siswa. Kutegaskan bahwa masalah keuangan sepenuhnya akan dibahas bersama Bu Aida.
Diskusi seputar draft KTSP SMP Bhakti Nusantara mulai beralih ke keuangan setelah Pak Agus, salah satu orang tua yang dipilih menjadi ketua Komite Sekolah mencermati neraca yang dibagikan. RAPBS lengkap yang disiapkan terbatas diberikan kepada Pak Agus untuk rincian neraca. Pak Agus menyoroti Upah SDM yang disebutkan untuk 1 orang sebesar FRp 4.000.000/bulan. Rupanya Pak Agus kurang menyimak beberapa catatan yang disampaikan pada awal pertemuan.
Setiap guru mendapatkan upah Rp 10.000/tatap muka tanpa dikali 4 ditambah tunjangan transport Rp 5.000/kehadiran. Orang tua manggut-manggut ketika disampaikan betapa kecilnya upah SDM di sekolah ini. Mereka bersedia untuk ikut memperjuangkan agar dana BOS ditingkatkan untuk memberikan Upah Minimum Layak hidup bagi guru, buku pelajaran gratis, penambahan dan perbaikan sarana dan operasional sekolah. Sampai saat ini selain SPP Rp 75.000/bulan orangtua juga dibebani biaya-biaya lainnya sebesar Rp 200.000-Rp 300.000 untuk ulangan, ujian dan kegiatan 1 tahun. Biasanya mereka memberikan dalam bentuk cicilan. Advokasi untuk sekolah gratis juga di sekolah swasta tanpa menyengsarakan guru menjadi prasyarat utama terpenuhinya hak atas pendidikan dan perlindungan hak-hak anak. Semoga orangtua SMP Bhakti Nusantara tetap teguh untuk ikut berjuang.

Akhir pekan di SMP Bhakti Nusantara

Sejak subuh kutekuni rencana pengembangan SMP Bhakti Nusantara. Satu per satu jawaban guru dan TU untuk setiap point mulai dari visi menjadi sekolah ramah terbaik di Indonesia sampai analisa SWOT SMP Bhakti Nusantara kubaca kembali. Tak Ada yang berubah, bahkan sebagian besar menyatakan kesediaan untuk berkomitmen penuh terhadap seluruh draft bahan KTSP SMP Bhakti Nusantara ini. Genap satu bulan setiap Senin, Rabu dan Jum'at kutemani anak-anak belajar. Anak-anak sangat antusias menanyakan kelanjutan diskusi pendidikan yang sudah mereka ikuti pada hari Rabu lalu. Akbar dan ketiga temannya sibuk menyusun laporan kegiatan diskusi. Anak-anak perempuan di kelas VIII berdiskusi menyimak buku sekolah elektronik Bahasa Indonesia Bahasa Kebanggaanku tentang menyimak laporan. Ervan, Amin dkk berebut membuka bse yang ada di laptop. Aku lebih tertarik melibatkan Haikal, Marbiansyah, Eva, Rahman dan Fahri dalam kegiatan belajar menyusun laporan. Haikal dan Fahri saling tuding menyebutkan bahwa seminggu ini mereka kena skorsing Bu Rini karena ketahuan merokok oleh Pak Lukman. Meski terlihat ragu-ragu, Rahman bersedia menjadi MC dan mempersilakan Haikal menyampaikan laporan lisan tentang tidak enak merokok. Berkali-kali Fahri menyangkal pernyataan Haikal. Fahri siap menyampaikan laporan pembelaan setelah Haikal selesai menjawab berbagai konfirmasi dan klarifikasi atas laporan yang disampaikannya di depan kelas.
Teman-teman Haikal menyimak laporan Haikal dan Fahri. Nampaknya mereka masih kebingungan menggunakan formulir untuk menyimak isi laporan yang mereka salin dari BSE. Tidak lama kemudian bel berbunyi, saatnya pindah ke kelas VII. Anak-anak kelas VII paling senang belajar berkelompok. Kali ini mereka belajar menulis cerpen berkelompok, pengumuman mengikuti format seperti yang tertera di BSE, menulis laporan kegiatan belajar dan menyusun cerita berantai.
Mereka sepakat untuk menyusun hasil kegiatan belajar hari ini pada mading kelas VII edisi kedua. Kita tunggu.

Bel pulang sudah berbunyi. Bu Rini dan bu Tuti sedang bersiap untuk pulang saat aku sampai di kantor. Keduanya sangat penting untuk menuntaskan identitas sekolah dalam format KTSP yang sedang kususun. Bu Rini langsung mengetik data-data yang diperlukan pada tabel yang sudah kusediakan di halaman-halaman tertentu. Bu Tuti menyiapkan laporan keuangan tahun pelajaran 2006/2007 dan 2007/2008. Rupanya data SMP Bhakti Nusantara belum diketik di komputer kecuali keuangan. Laporan keuangan yang disusun Bu Tuti sangat membantu dalam penyusunan RAPBS 2008/2009 dengan menganalisan laporan tersebut. Ada konsultan teknik yang datang untuk klarifikasi berbagai hal penting terkait dengan RKB SMP Bhakti Nusantara. Tidak lama Aida pun datang. Dia sedang sibuk promosi Herba Life. Rapat persiapan pertemuan dengan orang tua murid terpaksa ditunda karena harus menghadiri Diskusi di LBH Jakarta.Bagian ini bisa dilihat di http://fgii-federasiguruindependenindonesia.blogspot.com

Rabu, 27 Agustus 2008

fakta dan opini

Rabu, 27 Agustus 2008

Hari ini, Zakky dan Icha kembali ikut masuk di kelas
Icha duduk di bangku depan diantara dua anak saat aku masuk ke kelas VII. Zakky masih terlihat menjaga jarak dan memilih duduk di bangku belakang. Seperti biasanya, Zakky menjadi notulen kegiatan belajar.
Beberapa anak yang membawa perlengkapan untuk membuat mading berkumpul di depan kelas. Sisanya menyusun cerita berantai bersamaku. Sebelum dimulai anak-anak sepakat menyusun rubrik karya pantun, puisi, drama, cerita, gambar, dan wawancara tebntang SMP Bhakti Nusantara. Awalnya mereka masih memilih berita dari koran bekas dan menempelkan salah satu berita tentang resensi film di pojok kiri bawah kertas kalender yang menjadi media mading. Setelah diingatkan kembali untuk memilih karya-karya terbaik sesuai dengan pembagian tugas sebelumnya, anak-anak mulai asyik menggunting. Aku menggunting huruf-huruf terpilih dari koran bekas untuk judul karya mandiri. Revda menuliskan judul mading yang disepakati, Novia mendampingi Bahatiar dan Reza mewawancarai kepala sekolah untuk rubrik sekolah kami. Hasna dan Chandra sibuk membuat pantun baru, Monik menuliskan kembali dialog yang menjadi bahan drama yang sudah diperankannya bersama Hasna pada pertemuan sebelumnya, Rahma menuliskan ceritanya. Bahtiar, Reza, Lutfi, Ervan, Chandra, dan Agung baru saja menyelesaikan cerita berantai. Menarik sekali mendengar Chandra berulang-ulang menyambung cerita teman-temannya setelah berkali-kali menyatakan tidak bisa mengarang. Lebih menarik lagi melihat tim kecil ini berhasil menyusun ceritan yang diberi judul mandiri oleh Lutfi. Notulen cerita berantai disusun oleh Zakky sedangkan Lutfi menceritakannya kembali dengan bahasanya. Kedua cerita tersebut ditempel di mading bersama karya mandiri lainnya. Faris, Ervan, Bunga, Novia dkk menggunting huruf-huruf dari koran dan menempelkan nama mereka di mading tersebut. Revda menghiasi mading dengan gambar. Dengan bangga anak-anak menempelkan mading mereka di dinding sebelah kiri papan tulis. Mereka berjanji untuk memperbaharui mading tersebut setiap bulan. Semoga!

Tidak lama kemudian bel berbunyi. Aku masuk ke kelas IX. Beberapa anak yang biasa menunggu diluar kelas, satu-per satu masuk dan mengeluarkan LKS masing-masing. Rizki bersedia membagikan buku tulis teman-temannya. Aku minta maaf karena tidak memeriksa hasil belajar anak-anak pada hari Senin yang lalu. Kuminta mereka untuk melanjutkan menulis cerpen bebas yang mengikat makna hidup masing-masing. Rizki mengajukan usul untuk mengerjakan LKS. Kutawarkan pada anak-anak untuk memilih LKS atau membuat cerpen. Hanya ada 3 anak yang mau menulis cerpen, sisanya ingin mengerjakan LKS halaman 17-18. Akhirnya mereka sepakat untuk menulis cerpen di rumah sebanyak 750 kata dan menyelesaikan LKS. Kutinggalkan kelas sebentar untuk menenangkan diri di kantor. Bagaimanapun sulit bagiku menerima kenyataan bahwa anak-anak lebih senang mengerjakan soal. Tapi aku harus belajar untuk mengakomodasi keinginan anak-anak sambil melihat kemungkinan untuk menemani mereka belajar lebih konstruktif.
Ketika kembali ke kelas, beberapa anak terlihat diluar kelas. Tidak lama kemudian anak-anak menyerahkan LKS masing-masing. Melihat tumpukan LKS tersebut, kupikir lebih baik melibatkan anak untuk menilai hasil belajar mereka. Rizki menyediakan diri untuk membagikan LKS secara acak dengan catatan tidak ada satu pun anak yang mendapatkan LKSnya. Anak-anak menyebutkan jawaban setiap soal. Kesempatan belajar terbuka ketika ada jawaban yang berbeda untuk soal yang terkait dengan fakta, opini, kalimat pengandaian dan perbandingan. Cara asyik Cari tahu pun dimulai. Anak-anak dibimbing untuk mencari perbedaan fakta dengan oping, kalimat pengandaian dengan perbandingan, kata dengan makna yang diperluas dan dipersempit. Rencananya kegiatan CACT ini akan dilaksanakan pada pertemuan berikutnya.

Di kelas VIII kukihat LKS mereka sekilas. Materi penyusunan laporan kupilih untuk mengangkat masalah yang mereka hadapi. Hari ini anak-anak kelas VIII disetrap oleh Bu Ria. Aku yakin tidak ada satupun dari mereka yang menyukai perlakuan tersebut. Satu anak menunjukkan kertas kosong untuk pembuatan buku teka-teki kelas yang disepakati pada pertemuan sebelumnya. Namun kualihkan anak tersebut dan bersama-sama dengan anak lainnya menyusun laporan kegiatan hari ini. Kutuliskan langkah-langkah penyusunan laporan mulai dari hari, tanggal, tim penyusun, fakta, opini, kesimpulan dan evaluasi. Selain Akbar,anak-anak memilih berkelompok. Aku senang melihat mereka mengerjakannya sambi sesekali bertanya untuk mencari tahu apa yang dimaksud dengan fakta, opini, kesimpulan, dan evaluasi. 45 menit kemudian anak-anak menunjukkan laporan kegiatan individu dan kelompok. Fakta bahwa mereka disetrap ditulis lengkap dengan rinciannya. Opini diisi dengan pendapat mereka tentang perlakuan tersebut. Dua kelompok menuliskan usul perbaikan model hukuman jika mereka melanggar kesepakatan, kelompok lainnya menuliskan perasaan tidak suka terhadap perlakuan tersebut. Beberapa catatan untuk mendorong mereka mengisi opini lengkap dengan usulan kutuliskan pada kertas kerja anak-anak.
Sebelum pulang, anak-anak kuminta untuk menyusun opini tentang sekolah gratis. Fakta bahwa anak-anak masih membayar SPP dan LKS serta adanya peraturan dalam UUD 1945 dan UU Sisidiknas menjamin pendidikan dasar 9 tahun dibiayai pemerintah dan pemerintah daerah menjadi bahan kajian berikutnya.

Ada 10 anak kelas IX dan VII yang bersedia mengikuti diskusi pendidikan dengan tema mengusung APBN pendidikan yang memperbaiki kondisi belajar peserta didik dan kondisi kerja guru (non PNS) yang diselenggarakan oleh FGII (Federasi Guru Independen Indonesia) di wisma Kodel. Kami berjalan beriringan menuju halte Busway Pasar Genjing. Bela dan Irni mengubah panggilan terhadapku. Agak jengah ketika mendengan anak-anak memanggil mamah kepadaku. Mungkin karena tidak terbiasa ya.
Anak-anak terlihat antusias saat diminta memperkenalkan diri. Mereka juga menyimak dengan seksama paparan dari Ketua Umum DPP FGII, pengamat pendidikan dan rektor UHAMKA. Rizki, Bela, Akbar, Reza, Irny menyampaikan harapan mereka untuk mendapatkan sekolah gratis, buku gratis, transportasi gratis, perbaikan laboratorium, perpustakaan, WC, bahan-bahan praktek, dan kelas tanpa membebankan biaya kepada anak-anak. Mereka juga tidak lupa menyampaikan tentang perlunya peningkatan gaji guru. Reza bilang gaji guru sebaiknya Rp 6.000.000. Semoga didengar pemerintah dan pemerintah daerah ya.
Page Rank Check,
HTML Web Counter