Gerakan Sosial Kritis Berbasis Keluarga yang berupaya mendorong pemenuhan hak hidup bermartabat terutama hak atas pendidikan dan perlindungan anak
Senin, 25 Mei 2009
Sekepicung, 20 Mei 2009
Sesampainya di rumah belajar Bina Bhakti Persada sekira pukul 14.55 WIB, baru Adi dan Aep, dua orang warga belajar baru, yang telah datang. Untuk beberapa saat saya menunggu datangnya beberapa warga belajar yang lain. Sedangkan Zamzam tidak bisa mengikuti pendampingan hari ini karena ia mesti bertemu dengan beberapa teman pendamping Rutan untuk membicarakan beberapa hal.
Berturut-turut Elis, Hardi dan Aisyah tiba. Kami mulai kegiatan dengan salam dan sedikit review. Tak lupa kami memberi kesempatan kepada Adi dan Aep yang baru mengikuti pendampingan, untuk memperkenalkan diri.
Saya dan Ova memandu warga belajar untuk membuat jadual belajar mandiri dengan terlebih dahulu mengenali kebutuhan belajar masing-masing warga belajar. Sepertinya, fenomena pendidikan kita yang tidak memerdekakan telah banyak membuat kita tidak mandiri dan kebingungan memetakan kebuthan kita sendiri. Hal ini pun terjadi pada warga belajar dampingan kami, ketika mereka diminta untuk memetakan kebutuhan belajar sendiri dihubungkan dengan target yang telah dibuat oleh mereka masing-masing, masih saja mereka tampak kebingungan. Kami pun membimbing mereka meski dengan sedikit membatasi diri karena seringkali bimbingan yang kita berikan membuat warga belajar kurang inisiatif dan mandiri.
Sebenarnya warga belajar yang memetakan kebutuhan dan jadual belajar hanya Aisyah dan Elis. Sedangkan Hardi karena telah cukup lama tidak hadir, maka ia memulai dari menentukan target setahun ke depan bersama Adi dan Aep yang baru pertama kali ini hadir. Mereka bertiga merumuskan target setahun ke depan dengan tahap-tahap pencapaiannya.
Sempat ada celetukan pertanyaan dari Adi,”Sebenarnya sekarang ini kita sedang belajar IPA atau IPS, Kang?” Dengan sedikit tersenyum, kami menjelaskan maksud materi ini kepadanya. Pertanyaan seperti itu acapkali muncul dalam pendampingan di sini, karena sebagian besar warga belajar yang hadir mengikuti pendampingan bertujuan agar mereka dapat mengikuti ujian persamaan Paket B atau Paket C dan meraih ijazah. Padahal, pendampingan kami ini mencoba menyentuh banyak hal, terutama menumbuhkan semangat dan sikap ke arah pembelajaran mandiri.
Akhirnya, Elis dan Aisyah dapat memetakan kebutuhan belajar mereka masing-masing. Hardi, Adi dan Aep pun mulai mencoba merumuskan target setahun ke depan dengan tahap-tahap pencapaiannya. Saya akui, proses ke arah pembelajaran mandiri ini memang tampak tersendat-sendat tapi kami terus berusaha memandu setiap warga belajar membangun suatu kondisi belajar yang mungkin sama sekali berbeda dengan pemahaman dan pengalaman mereka selama ini. Wallahu a’lam…
Selasa, 19 Mei 2009
NOTULENSI FORUM OBROLAN KELUARGA (FORUM OK) PERKUMPULAN KELUARGA PEDULI PENDIDIKAN (KerLiP) EEP-Dago, 16 Mei 2009
NOTULENSI
FORUM OBROLAN KELUARGA (FORUM OK)
PERKUMPULAN KELUARGA PEDULI PENDIDIKAN (KerLiP)
EEP-Dago, 16 Mei 2009
oleh Izoel_KerLiP
Zamzam membuka acara dan memberikan review tentang pembicaraan sebelumnya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional di Taman Cilaki Bandung, 3 Mei 2009.
Zamzam : Pada Forum OK kali ini, akan kita coba perbincangkan dan rumuskan bersama Forum Komunitas Pendidikan Alternatif sebagai wahana bagi komunitas-komunitas untuk saling berbagi dan berkomunikasi.
Astrid (Gerakan Ilmu Untuk Semua) : Apa Pendidikan Alternatif itu? Haruskah keluar dari Depdiknas?
Zamzam : Pendidikan alternative adalah konsep pendidikan yang berbeda dengan konsep pendidikan yang banyak dikembangkan di sekolah-sekolah formal dan merupakan pilihan alternative atas ketidakpuasan masyarakat dengan pola pendidikan yang telah ada. Dalam pertemuan ini kita akan mendorong kepada pemerintah agar men-support secara penuh perkembangan pendidikan alternative ini.
Agung (Bahtera) : Seringkali anak-anak dari kawasan pinggiran atau luar kota sulit mengakses pendidikan, sehingga Bahtera terdorong untuk memfasilitasi mereka. Kami mengembangkan metode belajar sambil bermain, baik di Rumah Belajar Bahtera maupun di jalanan. Jadi, pendidikan alternative diarahkan pada anak-anak yang sulit mengakses pendidikan.
Ari (Bahtera) : Sejauh ini pendidikan alternative yang diselenggarakan oleh Bahtera berupa persiapan atau transisi bagi anak-anak jalanan menuju pendidikan formal. Hal ini kami lakukan melalui KLK (Kelas Layanan Khusus). Setelah itu barulah anak-anak masuk di kelas regular.
Astrid : Di Balikpapan, kami mendidik anak jalanan dan anak-anak pasar melalui homeschooling. Selanjutnya, mereka dibimbing untuk mengikuti ujian persamaan. Kegiatannya dilaksanakan 3 kali seminggu.
Agung : Di samping melakukan pendidikan alternative sebagai proses transisi anak-anak jalanan, Bahtera pun telah menyusun buku literasi anak.
Astrid : Selain melakukan homeschooling bagi anak-anak jalanan, kami bekerjasama dengan Pesantren Hidayatullah untuk mendidik anak-anak yang berada di area lokalisasi.
Zamzam : Bagaimanakah caranya agar Depdiknas memperhatikan penyelenggaraan pendidikan-pendidikan alternative di masyarakat? Kita harus mendorong pemerintah agar men-support bahkan mensubsidi penyelenggaraan pendidikan alternative bukan malah membatasi dengan berbagai macam prasyarat. Kemudian, pemerintah harus memberi ruang kepada para penyelenggara pendidikan alternative agar tetap berjalan dengan kekhasannya masing-masing.
Rima (YPBB) : YPBB sebagai lembaga yang concern terhadap masalah lingkungan, lebih focus pada penyusunan kurikulum yang berbasis lingkungan hidup. Kami berpandangan bahwa pendidikan alternative adalah konsep pendidikan khususnya kurikulum yang berbeda dari kurikulum yang terdapat di sekolah-sekolah formal. Kami sering mengajak anak-anak untuk belajar di alam, terutama di taman-taman kota.
Bu Yanti : Topik pendidikan alternative ini menjadi diskusi di saat-saat pertama pembentukan E-Net Justice di Surabaya. Sayang dalam diskusi tersebut, belum bisa merumuskan definisi pendidikan alternative. Kebanyakan orang menganggap bahwa pendidikan alternative itu selalu berada di luar sekolah formal. Padahal, bila kita memperhatikan perkembangan pendidikan di Negara-negara lain, ternyata konsep pendidikan alternative juga dikembangkan di sekolah-sekolah formal. Dikarenakan masih banyak masyarakat menganggap sekolah formal sebagai mainstream dan menjadi institusi pendidikan yang utama, maka kita perlu mendorong konsep pendidikan alternative ini ke arah mainstream. Dalam pertemuan ini, mari kita merumuskan kata-kata kunci untuk terus membumikan wacana pendidikan alternative ini dan pembentukan forum bersama.
Zamzam : Kita harus mendorong pemerintah agar membuat kebijakan demi pengembangan konsep-konsep pendidikan alternative ini di wilayah-wilayah mainstream.
Bu Yanti : Menurut sebuah data, di Indonesia masih ada ± 11 juta jiwa buta aksara. Padahal keaksaraan ini merupakan hal yang paling utama dalam pendidikan dan pembangunan anak-anak bangsa. Terkait hal ini, kami bersama elemen-elemen lain sedang mengajukan uji materi UU Sisdiknas ke Mahkamah Konstitusi, terutama berhubungan dengan masalah anggaran. Kita pun harus melakukan uji materi tentang definisi dan implementasi pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana.
Zamzam : Untuk menguatkan daya dorong tersebut, kita harus menyatukan kekuatan dalam sebuah forum bersama. Di samping itu, kita harus menata gerakan advokasinya.
Kang Dan Satriana (Kalyanamandira) : Dalam pembentukan forum itu mesti diperhatikan, jangan sampai kita menggali lubang kubur sendiri. Artinya, pembentukan forum ini bukan malah membatasi ruang gerak dan mengebiri kreativitas para penyelenggara pendidikan alternative. Kita memang harus melakukan berbagai cara agar pendidikan di Negara menjadi lebih baik. Namun, para pelaku pendidikan alternative harus senantiasa ada dan terus-menerus mengembangkan kreativitas dan inovasinya.
Zamzam : Dengan demikian, gerakan kita ini akan senantiasa ‘mengganggu’ konsep pendidikan yang telah menjadi mainstream.
Bu Yanti : Mungkin kita harus belajar dari proses pendidikan yang berlangsung di New Zealand, di mana standar pendidikan sangat sedikit sehingga para pelaku pendidikan mendapat ruang yang sangat luas dan terbuka untuk berkreasi.
Kang Dan : Advokasi terhadap pendidikan harus terus berjalan, dan penyelenggaraan pendidikan alternative pun harus terus muncul di pinggiran. Penyelenggaraan pendidikan formal, nonformal dan informal harus terus disempurnakan. Dan selalu saja ada celah untuk mewadahi energi para pelaku pendidikan alternative.
Bu Yanti : Jadi kata kuncinya, pendidikan alternative harus senantiasa dinamis dan menemukan hal-hal baru. Pendidikan alternative akan menjadi cermin bagi konsep mainstream. Oleh karena itu, kita harus menjalin komunikasi dan saling berbagi gagasan dan ide untuk memperkaya khazanah pendidikan alternative.
Kang Dan : Perlu diingat, bila pendidikan alterbatif diarahkan pada mainstream ada kekhawatiran penyelenggaraan pendidikan alternative ini akan dibatasi ruang geraknya. Oleh karena itu, saya beranggapan bahwa pendidikan alternative harus selalu berada di luar mainstream dan campur tangan Negara. Boleh jadi Negara akan belajar banyak dari penyelenggaraan pendidikan alternative. Saran saya, forum ini lebih diarahkan pada saling memperkaya ide dan gagasan antar komunitas. Selanjutnya, kita bisa ‘mengepung’ Negara dengan pengalaman-pengalaman kita dalam penyelenggaraan pendidikan alternative.
Sebelum Zamzam menutup acara, dihasilkan kesepakatan untuk melakukan pertemuan lanjutan di Rumah Belajar Bahtera, pada tanggal 31 Mei 2009. (izoel)
Sekepicung, 15 Mei 2009
Bangga dan terharu adalah perasaan yang saya rasakan dalam pendampingan di daerah Cibacang, Sekepicung, Kabupaten Bandung kali ini. Setidaknya dua perasaan itulah yang muncul ketika saya mendengarkan Ema, Agus, Sam, Aisyah, Elis, Nurjanah, Nurhayati, Ulfa menyampaikan cita-cita mereka setahun ke depan. Cita-cita ini mereka rumuskan dalam target setahun ke depan disertai langkah-langkah yang akan mereka ambil untuk mencapai target tersebut.
Memang dalam beberapa pertemuan pendampingan terakhir ini, secara bergantian saya, Ova dan Zamzam memandu warga belajar kearah proses pembelajaran mandiri. Warga belajar dibimbing untuk menentukan target setahun ke depan, merumuskan kebutuhan belajar dan langkah-langkah yang akan mereka ambil secara mandiri. Proses ini sebenarnya sempat membuat kaget para warga belajar, tetapi lambat-laun sebagian di antara mereka mulai mengambil inisiatif untuk menata proses belajar mereka masing-masing. Hal ini dibuktikan dengan beberapa orang warga belajar yang mulai belajar berdasar minat atau bakat mereka dan ditunjukkan dengan beberapa hasil karya mereka seperti, kaligrafi, lukisan, komik dan puisi.
Hari ini, menyambung beberapa pertemuan sebelumnya terkait dengan target satu tahun ke depan, Zamzam memandu warga belajar untuk menuliskan pengalaman-pengalaman terbaik mereka. Dalam pengalaman terbaik itu, warga belajar diminta untuk mengungkapkan perasaan dan hal-hal apa saja yang muncul saat menjalani pengalaman tersebut.
Ternyata, di antara warga belajar ada yang pernah menorehkan prestasi menjadi juara ke-2 kejuaran Golf tingkat junior se-Jawa Barat. Ema (20 tahun) yang kini bekerja sebagai caddy golf ini pernah meraih prsetasi ini ketika ia berumur sekira 15 tahun. Ema banyak belajar olah raga golf dari kakaknya yang sekarang menjadi pelatih golf. Ema yang hanya tamatan SLTP ini berkeinginan untuk menorehkan kembali prestasi di masa-masa yang akan datang.
Mungkin beberapa warga lain belum mempunyai prestasi setingkat Ema, tetapi menarik untuk kita acungi jempol cita-cita dan keinginan mereka untuk menjadi orang-orang yang berhasil. Elis yang mempunyai minat dalam penulisan puisi dan cerpen, senantiasa menunjukkan antusiasmenya dalam penulisan karya sastra. Hal ini ia tunjukkan dengan beberapa karya puisi dan cerpen yang telah ia tulis. Namun karena belum ada kesempatan, hasil-hasil karyanya ini belum bisa dipublikasikan. Sehingga, ia bertekad untuk terus menulis dan mencoba mengirimkannya ke media dan penerbitan.
Sementara warga belajar yang lain menunjukkan minat di bidang-bidang yang lain. Misalnya Aisyah yang mempunyai ketertarikan dalam seni lukis. Sejauh ini, Aisyah menyalurkan bakat melukisnya ini dengan mengajarkannya kepada murid-muridnya di sebuah TPA di daerah Ciburial.
Selanjutnya, secara bergantian masing-masing warga belajar menyampaikan pengalaman-pengalaman terbaik mereka dipandu saya dan Zamzam. Di akhir kegiatan, Zamzam memberikan refleksi dari kegiatan pendampingan hari ini. Menurutnya, perasaan-perasaan positif yang muncul ketika kita merasakan suatu pengalaman terbaik harus selalu dihidupkan pada saat kita menjalani proses pencapaian cita-cita. Dan kegiatan pun saya tutup dengan doa dan salam penutup.