Alhamdulillah, kemitraan dengan berbagai pihak makin terasa manfaatnya bagi penguatan kapasitas lokal dalam respons bencana. Piagam kemanusiaan dan standar-standar minimum yang diambil dari buku proyek sphere yang diterbitkan Grasindo sangat membantu dalam menyatukan gagasan dan harapan semua pihak. Baru saja Ova mengirimkan pesan bahagianya mendapatkan sambutan yang luar biasa dari Ibu Ita (Wakadinsos) dan penerimaan Ibu Elka (Kadinsos) dan Bapak Mlenik (ASDA III) di Satkorlak Pemkab Garut terhadap rencana tindak lanjut KerLiP bersama mitra untuk merintis pembentukan Forum Relawan Siaga Bencana Kabupaten Garut yang melibatkan seluruh Satkorlak di 42 kecamatan, 15 ibu-ibu dan 15 anak perempuan dari 9 Kecamatan dengan jumlah pengungsi terbanyak seperti, Cikelet, Cibalong, Pamengpeuk, dst.
Ova masih berkordinasi di Dinsos Pemkab Bandung bersama Ibu Ita sambil menunggu Pak Dadang ketua Foggar yang juga Kepala Sekolah SMK Tarogong Kidul 1 Garut. Surat dan lampiran kebutuhan relawan untuk Pak Dadang sudah disiapkan. Ova berencana mengantar rombongan Pak Dadang yang akan membagikan bantuan kemanusiaan ke Cikelet. Diharapkan akan ada pinjaman komputer, printer, scanner, dan broadband internet dari Pak Dadang.
Saya menyambut gembira mengingat kebutuhan untuk bantuan infrastruktur memerlukan data basis yang sudah diverifikasi oleh satkorlak kecamatan dan diminta Pak Soesatyo untuk diajukan kepada Satkorlak Jabar pada hari Jum'at.
Begitu mendengar hal ini saya kembali menghubungi kordinator lapangan, Usep.
Ada kabar dari Usep bahwa Boy memberikan pengarahan untuk mengecualikan bantuan infrastruktur di Cikelet dalam program tahap rehabilitasi dan rekonstruksi bersama Serikat Petani Pasundan. Dilain pihak, tim arsitek yang dipimpin Pak Moyo, rekan Pak Soesatyo sudah menyiapkan proposal teknis untuk pembangunan infrastruktur kembali di Cikelet.
Saya meminta Usep untuk memprioritaskan pendataan sekolah, madrasah, pesantren, masjid dan mushola yang rusak untuk jalan keluarnya. Mudah-mudahan bisa diterima.
Kordinasi lewat sms dengan para relawan di lapangan sangat membantu kelancaran persiapan pendampingan psikososial di Cikelet, Cibalong dan Kiarakohok.
Dokter Efi, Ade, dan farhan baru saja sampai membawa berkas dan Atk yang diperlukan untuk pemetaan kebutuhan di lapangan. Panduan relawan, kontrak relawan, surat tugas, kode perilaku relawan, piranti kajian awal yang diprint dari kiriman Konsorsium Pendidikan Bencana, panduan penanganan psikososial dan bahan rujukan yang disiapkan psikolog kita Pak Asep menjadi bekal mereka. Bahan-bahan FGD mulai dari piranti kajian awal, absen, narasi kajian awal, sosialisasi program tahap tanggap darurat sudah disiapkan untuk kegiatan seluruh relawan mulai tanggal 9-11 Spetember 2009. Alhamdulillah ketiga relawan sudah mulai berkordinasi dengan Usep dan kawan-kawan di posko Cikelet. Mereka pergi membawa barang-barang dengan menggunakan bis estafet. Awalnya Pak Dadang berjanji menyediakan kendaraan bersama relawan Garut untuk mengantar para relawan tersebut ke Cikelet. Ova mengantar mereka sampai Garut dan tidak langsung pulang karena perlu menyelesaikan kordinasi persiapan FGD yang lebih luas untuk mkenginisiasi pembentukan Forum relawan yang multistakeholder.
Syukurlah masih banyak pemuda yang begitu baik menjunjung tinggi hak untuk memperoleh kehidupan yang bermartabat, solidaritas, keadilan sosial, anti KKN dan demi kepentingan terbaik anak dalam bekerja sepenuh hati sebagai relawan di Cikelet.
Saya terima telpon lagi dari Farhan yang mendorong kegiatan FGD dilaksanakan di desa Kiarakohok juga mengingat parahnya kerusakan disana. Namun saya mengingatkan keterbatasan waktu yang mereka miliki. Rencananya Jum'at siang KerLiP diminta kordinasi dengan Satkorlak kabupaten Garut dengan membawa hasil pemetaan kebutuhan untuk persiapan FGD sepekan bantuan kemanusiaan di Garut sebagai langkah awal perintisan pembentukan Forum Relawan SIaga Bencana di Kabupaten Garut.
Ketiga relawan dari Bandung ini merupakan rekan-rekan Ova dan Zamzam. Sungguh membahagiakan bekerjasama dengan relawan yang begitu mulia. Mudah-mudahan program pendampingan psikosial anak dan perempuan di Pamengpeuk ini memep==erkuat jalinan kerelawanan kita semua demi kepentingan terbaik anak.
Gerakan Sosial Kritis Berbasis Keluarga yang berupaya mendorong pemenuhan hak hidup bermartabat terutama hak atas pendidikan dan perlindungan anak
Rabu, 09 September 2009
Minggu, 06 September 2009
Narasi hasil pengamatan di Pameungpeuk
1. Perjalanan ke Cikelet menuju rumah Boy Frido
Kordinasi intensif dengan Boy Frido, pendidik di MTs Pasawahan dan Mts Sururon melalui handphone sejak hari Jum’at tanggal 4 September mengawali program bantuan kemanusiaan untuk korban gempa Jawa Barat. Rincian kondisi di lapangan yang disampaikn Boy Frido langsung disebarluaskan melalui internet dan dibahas dalam Forum OK! Obrolan KerLiP di lembaga kursus EEP Jl. Ir. H. Juanda No 130B Bandung 40132 pada hari Sabtu tanggal 5 Spetember 2009 pukul 10.30 – 12.30. Jaringan Pak Soesatyo dari KPPN di Kabupaten Garut sangat membantu proses kordinasi dengan Dinsos Pemkab Garut dan RS. Dr. Slamet. Hasil konsolidasi pada Forum OK! Langsung kami tindaklanjuti dengan penelusuran media oleh Ayu, Dyah dan Pak Soesatyo, kunjungan ke Pameungpeuk dipimpin saya, Ibu Kusmeni dari ISFI berkomitmen untuk mengumpulkan data di Pangalengan.
Saya, Ova, Ayu dan Dyah berangkat dari Dago pada hari Minggu tanggal 6 September 2009 saat sahur pukul 3.30 ke Cicaheum. Satu-satunya bis yang langsung ke Cikelet baru berangkat dari Cicaheum pada pukul 6.00. Bis penuh sesak dengan penumpang terutama perempuan yang bekerja di garmen di daerah Cicalengka.
Kami sempat tertidur di bis dan terbangun di jalan berkelok-kelok menuju Pameungpeuk. Tak terlihat kerusakan apapun sepanjang jalan tersebut. Kebun teh terhampar di kanan kiri jalan diiringi bukit-bukit yang gundul dan beberapa bagian jalan yang nampaknya rawan longsor. Tidak lama kemudian bisa yang kami tumpangi sampai pada bagian yang dipenuhi hutan primer yang sangat lebat. Terlihat sungai mengalir jernih di lembah yang dihimpit hutan lebat tersebut. Hawa mulai terasa panas, belum terlihat kerusakan bangunan. Saya dan Ayu mulai mengambil foto-foto dari bis saat melihat posko Yayasan pendidikan Al Azhar kemudian posko Save the Children estela Pondok Pesantren Al Falah. DI kiri jalan terlihat beberapa rumah retak dan roboh dan bangunan SD Depok 01. Mungkin ada 3 kelas yang hancur karena gempa. Menjelang pertigaan menuju Cikelet makin banyak rumah hermanen yang roboh. Sopir bisa dan penumpang disebelah menunjuk salah-satu bangunan yang roboh di kanan jalan. Kata mereka ada dua orang yang meninggal di reruntuhan rumah tersebut.
Saya lihat ada mobil Indosat di posko bantuan kemanusiaan sub kabupaten Garut, Beberapa mobil IBU foundation terlihat di kanan jalan. Tenda-tenda darurat terlihat dipasang di depan rumah yang rusak karena gempa. DI pertigaan menuju Desa Cikelet terlihat tenda-tenda militer dan polisi. Mungkin disana tempat satkorlak kecamatan Pameungpeuk. Rumah permanen yang rusak berat makin banyak. Hampir semua toko di Pasar dekat Cikelet terlihat sudah buka. Ada balai pengobatan di kanan jalan. Pukul 12 kami tiba di depan rumah Boy Frido. Terlihat Boy dan kawan-kawannya menunggu di pinggir jalan. Rupanya rumah Boy dilewati bis menuju Desa Cikelet. Bagian depan rumah rubuh. Buku-buku di perpustakaan masih menumpuk rapi. Ada 2 orang dari PERGERAKAN Bandung, 3 orang dari Serikat Petani Pasundan, 1 orang dari jakarta dan 1 relawan setempat.
Boy menyampaikan perkembangan pengumpulan data, bantuan yang masuk, kordinasi di kelurahan Cikelet, Usep menambahkan dengan keterangan dari Kiara Kohok, Yufik dan Ayi tentang Desa Cibalong. Boy mengajak kami langsung ke posko di depan masjid yang dibuka atas inisiatif warga bersama aparat kelurahan Cikelet. Mereka memutuskan untuk membentuk posko tersebut untuk meningkatkan partsipasi warga dan efektivitas penyaluran bantuan kemanusiaan berkordinasi dengan Kecamatan dan satkorlak Kecamatan.
2. Diskusi Terfokus dengan Sekdes dan Lurah Cikelet
Pak Sekdes menjelaskan tentang bantuan-bantuan kemanusiaan yang diterima dan didistribusikan melalui RT. Ada 28 RT di Desa Cikelet yang letaknya sangat berjauhan. Warga dan aparat sepakat untuk menyalurkan bantuan langsung melalui ketua RT atau pengurus RT yang mewakili untuk memastikan seluruih bantuan terdistribusikan dengan baik. Selurh bantuan dipastikan dapat diterima warga beberapa jam setelah diterima oleh Posko. Tenda militer digunakan untuk dapur umum yang dikelola oleh TNI dan tempat evakuasi > 50 ibu dan anak yang kehilangan tempat tinggal.
Pak Sekdes kemudian meminta ijin untuk menerima tamu di rumahnya.
Boy, saya, Ova, Usep membahas beberapa hal teknis yang perlu dikordinasikan:
• Jika diperlukan testimoni aparat dan warga pada kordinasi yang direncanakan bersama Sekda dan Wagub Jabar disarankan untuk memperhatikan waktunya. Koordinasi jangan jam10 pagi, sebaiknya ba’da Ashar karena keterbatasan transportasi.
• Pengumpulan data berdasarkan usia dan jenis kelamin sedang dijalankan oleh pengurus RT dan segera dikirim setelah terkumpul
• Koordinasi penanggulangan bencana di Desa Cikelet langsung dipimpin oleh Pak Lurah.
• Dilema tentang rumah yang retak. Masih menunggu kesepakatan dengan satkorlak. Dikhawatirkan rumah-rumah yang retak tersebut membahayakan pemilik yang tinggal di tenda depan rumah masing-masing terutama anak-anak. Ada keinginan untuk meminta warga merubuhkan bangunan yang retak namun harus diantisipasi dengan tempat evakuasi warga dan reruntuhan rumah tersebut
• Dipertanyakan komitmen pemerintah provinsi Jawa Barat setelah adanya bantuan dana yang disampaikan oleh Presiden RI beberapa hari yang lalu. Bagaimana rencana pendistribusian dan dasar pendistribusiannya mengingat sebaran korban bencana sangat luas di seluruh Provinsi jawa barat.
• Perkumpulan KerLiP memfasilitasi advokasi bantuan kemanusiaaan untuk korban gempa di Jawa Barat bersama Pak Soesatyo dari KPPN, Ibu Kusmeni dari ISFI Jabar, Ayu dan Dyah guru Sekolah Alam Bandung, Rifki dari BEM UPI. Pak Haidir guru Al Azhar Bandung.
o Sekretariat di Rumah KerLiP Bandung Jl. Dago Elos V No 423 Bandung 40135 Tlp/HP : 022-2505116/081220555069 email : peduligempa@gmail.com situs : www.rumahkerlip.blogspot.com
o Pengumpulan data hasil penelusuran media dan pendataan di Bandung, Pangalengan dan Pameungpeuk sd 6 September 2009
o Penyusunan rekomendasi dan pers release di sekretariat pada hari Senin tanggal 7 September 2009 pukul 10 sampai selesai
o Penyampaian surat permohonan audiensi dan lobby personal oleh Pak Soesatyo
o Audiensi dengan Sekda Jabar, Wagub jabar, dan Satkorlak Jabar sete
o Rekrutmen dan pelatihan relawan pendamping anak, dokter dan psikolog
o Penggalangan bantuan kemanusiaan dari berbagai pihak
o Rencana Tindak lanjut lainnya
o Warga sudah mulai terserang ISPA karena kemarau panjang dan debu dari reruntuhan bangunan yang belum dapat dievakuasi.
Pak Lurah kemudian datang menjelaskan rekapitulasi sementara data dari 28 RT Kelurahan Cikelet. Kertas berisi tulisan tangan hasil rekapitulasi yang akan dibawa Pak Lurah ke Satkorlak Kecsamatan sudah didokumentasikan. Ada 714 rumah rusak ringan sampai berat, 2715 pengungsi, 3 perempuan dan 2 laki-laki (1,5 – 49 tahun), 1 perempuan (71 tahun) dan 1 laki-laki (45 tahun) meninggal, 12 sekolah rusak ringan, 4 madrasah rusak berat, 25 mushola/masjid, balai kampung rusak berat, pesantren rusak berat.
Ayu dan Dyah menemui anak-anak korban gempa yang sedang bermain di tenda biru samping masjid. Sebagian anak-anak juga terlihat main di sungai. Ada Tamiya yang disewa anak-anak Rp 1.000/hari tanpa batasan jam dari kakak salah satu anak lainnya.Ayu dan Dyah juga berkeliling mendokumentasikan bangunan yang rusak dan sarana MCK di Desa Cikelet.
Yufiq terlihat mendokumentasikan dengan kameranya sebelum berangkat dengan Ayi ke posko SPP di Cibalong. Tidak lama kemudian Usep menyusul mereka.
Saya, Ova, Ayu dan Dyah berjalan mengikuti Boy untuk bersiap-siap ke RS Dr. Slamet Garut. Saya dan Ova menyempatkan mampir dan mengobrol dengan warga di beberapa tempat yang dilewati
Saya dan Ova berkenalan dengan Ibu Suhamah, Ibu Cica, Ibu Tingting dan Ibu Neng yang sedang me’rompes’ kacang panjang serta ananda Fachri yang terkena penyakit cacar. Kelimanya menghuni tenda posko kelurahan desa Cikelet bersama puluhan ibu dan anak lainnya yang kehilangan tempat tinggal mereka karena gempa. Ibu Suhamah menceritakan kehilangannya dengan mencucurkan air mata. Bu Neng mengusulkan pembuatan parit untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya hujan. Saya menyarankan Fachri untuk tinggal di tempat terpisah untuk mengantisipasi kerentanan korban gempa terhadap penyakit menular ini. Sampai hari itu Fachri belum berobat. Menurut Bu Neng, ibunya, Fachri dan ayahnya yang terkena cacar, tapi saya tidak melihat ayahnya disana. Sebelum keluar dari tenda tersebut, saya meminta keempat ibu ini menuliskan saran dan masukan mereka untuk disampaikan kepada Pak Lurah.
Ada dua perawat sedang memeriksa seorang bapak di posko kesehatan. Saya sempat berkenalan dan mampir menanyakan kebutuhan bantuan di posko tersebut. Keduanya menjelaskan bahwa mereka dalam tanggung jawab Puskesmas dan bergantian berjaga. Sangat diharapkan ada bantuan dokter, antibiotik, sallisil talk, dan salep setelah mendengar kabar bahwa Fachri terkena cacar. Rupanya mereka baru mengetahui hal tersebut.
Saya sempat berkenalan dengan Ibu Muh yang tinggal di bagian rumahnya yang tersisa. Tumpukan reruntuhan rumahnya terlihat menggunung. Saya merasa agak khawatir melihat bagin rumah yang ditinggali Bu Muh dengan dua anaknya. Kemudian saya meminta ijin kepada Ibu Subchon pemilik pondok pesantren di desa Cikelet untuk ikut ke toiletnya. Beliau menunjukkan bagian dapur dan kobong yang hancur oleh gempa. Pada saat gempa terjadi ada ratusan anak dari berbagai kampung yang sedang mengikuti pesantren kilat terpaksa dipulangkan.
Kami sempat diajak pulang bersama ke Bandung oleh Ibu Kades Girimekar dari Ujungberung dan pihak lainnya, manun kami memutuskan untuk naik omprengan ke Pameungpeuk kemudian naik elf ke Garut.
Selama dalam perjalanan dari Pameungpeuk menuju Bandung, saya sempat menghubungi berbagai pihak. Antisipasi untuk Rencana Tindak Lanjut dilakukan dengan berbagai cara. Kordinasi melalui telpon dengan pengawas di dinas pendidikan Kabupaten Garut diharapkan dapat memperkuat rencana Kesiagaan bencana melalui lembaga pendidikan. Beliau menyambut baik dan siap ditemui saat kami kembali ke Garut. Persatuan Insinyur Indonesia akan segera berkordinasi untuk membantu rekonstruksi. Ibu Meneg BUMN siap membantu menghubungkan dengan BUMN-BUMN untuk mengirimkan bantuan ke Pameungpeuk. Tifa Foundation, Tara mitra Informatama, Bapak M. Lukmantyas dan Bapak Tarto dari IM2 Jakarta siap membantu. Ibu Feni dari Shafira House sudah menghubungi kontak dengan Bapak Arifin Panigoro untuk segera datang ke lokasi. Garuda dan Esia sudah masuk ke Posko kelurahan Cikelet setelah SCTV dan TVOne. Di sepanjang jalan juga terlihat posko ACT dan yang lainnya serta mobil-mobil yang bergantian menyalurkan bantuan terutama di Kiarakohok.
Waktu maghrib sudah lewat saat kami tiba di terminal Garut. Sms jawaban dari Ibu Dr. Widjayanti, kepala RS Dr. Slamet masuk pada saat yang bersamaan. Awalnya kami memutuskan untuk langsung menemui beliau di rumah sakit. Namun ternyata beliau baru masuk tol PasirKoja untuk mengikuti rapat evaluasi pasca gempa bersama Pemkab Garut. Saya menyampaikan kebutuhan obat-obatan yang diminta petugas Posko kesehatan dan Ibu Doker Widjayanti berjanji akan segera menghubungi dokter di Puskesmas setempat. Beliau juga sempat menjelaskan beberapa hal terkait dengan penanganan kesehatan korban gempa dalam telpon.
Belia menegaskan bahwa pertemuan evaluasi ini bersifat intern dan dihadiri Bupati, Wakil Bupati, Satkorlak, BMG dan pihak terkait lainnya.
Saya mencoba menghubungi Pak Mlenik Asda II Pemkab Garut melalui sms. Dijawab oleh Ibu Mlenik bahwa suaminya sedang ke masjid dan segera menuju tempat rapat. Kordinasi via telpon bersama Pak Soesatyo sangat membantu. Saya dan Ova memutuskan pergi ke Posko di Dinas Sosial Pemkab Garut untuk verifikasi data dari lapangan setelah mendapatkan nomor Ibu Elka, Kadinsos Pemkab Garut. Ayu dan Dyah meutuskan untuk langsung pulang ke Bandung karena esok harinya harus pergi mengajar.
Sebelum sampai di Posko kami bertemu dengan Ibu Ita, wakadinsos yang menyambut baik hasil kajian di lapangan. Beliau menyampaikan beberapa hal mengenai proses terjadinya gempa dan pendistribusian bantuan yang menjadi tanggung jawab Dinsos sebagai wakil skretaris satkorlak. Satkorlak dipimpin langsung oleh Bapak Wakil Bupati yang tanpa kenal lelah memantau perkembangan korban gempa, pendistribusian bantuan dan hal terkait lainnya di kantor Pemkab Garut. Pelaksana harian satkorlak menjadi tanggungjawab Setda dan ketiga ASDA di pemerintahan Kabupaten Garut. Menurut Bu Ita, sudah dicapai kesepakatan untuk memindahkan kantor satkorlak ke kantor Dinsos agar kordinasi berjalan lebih baik. Seluruh bantuan sudah didistribusiken melalui satkorlak kecamatan. Beliau terkejut mendengar paparan Usep mengenai ketiadaan bantuan makanan di Desa Leuwi Pari, Jampang, Mancagahar, dan Jatimulya sampai kemarin.
Data yang disampaikan Usep dari keempat desa tersebut lebih sedikit dari data yang dikumpulkan Posko di Dinsos sampai tanggal 5 September pukul 12.00. Dalam rapat terakhir disampaikan bahwa diperlukan 287 ton beras untuk sekitar 39 ribu korban di 42 kecamatan di Kabupaten Garut. Penyebaran korban yang begitu luas dengan kondisi kerusakan yang sangat bervariasi membuat pendistribusian bantuan agak terhambat. Bu Ita menjelaskan kekurangan tagana, tenda, alat komunikasi, dan tenaga relawan yang siap membantu mendistribusikan bantuan. Posko Kabupaten garut akan memprioritaskan perhatian ke daerah-daerah yang jarang dikunjungi pihak-pihak yang menyalurkan bantuan langsung.
Alhamdulillah sebelum pulang kami dibekali salinan data yang dikumpulkan Bu Ita dan jajarannya di Dinas Sosial Pemkab Garut.
Jumat, 04 September 2009
Bantu Korban Gempa Yuk!
Salam solidaritas,
Sejak kemarin saya kontak Boy Frido, penggiat pendidikan alternatif untuk
petani di Garut.
Dia tinggal di Desa Cikelet dekat Pameungpeuk (pusat gempa).
Pagi ini saya menerima informasi situasi terkini dari Boy Frido via handphone
Penduduk desa Cikelet lebih kurang lebih 500 KK kebanyakan PNS dan well educated
Ada 1 posko yang dikelola tentara 100 m dari rumah Boy tapi sering
dikeluhkan warga
karena beberapa alasan :
1. Pendataan korban belum berjalan dg baik : ada warga yang berkali-kali
mengambil bantuan
2. Terlihat banyak mobil bantuan yang datang namun bantuan yang dibagikan
sangat minimal (4 botol kecap dan 5 bungkus indomie per KK)
3. Ada penampungan sementara ditinggali 30-40 orang
4. listrik dimatikan sementara oleh PLN karena banyak rumah rusak berat
5. anak2 sekolah masih mondar-mandir setiap pagi karena sekolah belum
berjalan
6. Para PNS juga belum memulai pekerjaan
7. Banyak anak dan keluarga yang terpaksa tinggal di emperan
8. Keluhan warga ditanggapi kurang simpatik oleh pengelola POSKO
9.arena tidur di emperan depan rumah, mulai banyak warga pada usia anak yang
terserang ISPA
Warga Cikelet berencana untuk membuat posko, saya minta Boy untuk
memfasilitasi terbentuknya forum warga. Katanya Boy masih ingin jadi korban
saja dan meminta beberapa relawan untuk membantu memfasilitasi terbuntuknya
Forum Warga juga ada sosialisasi SPHERE untuk mendorong partisipasi warga
korban yang lebih baik sejak dini.
Oh ya, kemarin Boy sampai harus berjalan 500 m dari rumahnya untuk membeli
beras. Biasanya dalam jarak 50 m sudah ada di warung terdekat. Ada yang
menarik dengan karakteristik warga Desa Cikelet. Meskipun dekat dengan Posko
X, namun jika Posko tsb terletak di desa lain, mereka merasa tidak berhak
untuk mendapatkan bantuan dari sana. Ini cukup menghambat penyaluran
bantuan.
Rencana Tindak lanjut KerLiP
1. kontak intensif dengan mitra yang jadi korban di Pangalengan, Garut,
Tasik, Ciamis
2. Menyebarluaskan bantuan yang diperlukan Boy dan kawan-kawan di daerah
gempa melalui email, milis, facebook, sms sejak tanggal 3 September 2009
3. Kordinasi dengan para penggiat hak anak di Kota Bandung, Sabtu 5
September 2009 untuk rekrutmen relawan
4. Membantu penyusunan laporan perkembangan dari relawan korban gempa
5. Membantu memfasilitasi partisipasi IDP's anak dan perempuan dalam
pembentukan forum warga korban bencana di Desa Cikelet mulai tanggal 6
September 2009
Bagi rekan-rekan MPBI, PMI, dan CDE lainnya yang berkenan membantu
dipersilakan menghubungi Boy Frido di 081320499220 atau titipkan bantuan ke
Dago Elos V no 423 Bandung 40135 Tlp 022-2505116 HP 081220555069 email :
rumahkerlip@gmail.com. Diperlukan buku-buku SPHERE project dan pelatihannya
untuk warga selain bantuan yang diperlukan untuk tanggap darurat.
Bantuan perdana akan diangkut pada tanggal 6 September ke Desa Cikelet jam
11.30 naik bis dari Cicaheum Bandung.
Sejak kemarin saya kontak Boy Frido, penggiat pendidikan alternatif untuk
petani di Garut.
Dia tinggal di Desa Cikelet dekat Pameungpeuk (pusat gempa).
Pagi ini saya menerima informasi situasi terkini dari Boy Frido via handphone
Penduduk desa Cikelet lebih kurang lebih 500 KK kebanyakan PNS dan well educated
Ada 1 posko yang dikelola tentara 100 m dari rumah Boy tapi sering
dikeluhkan warga
karena beberapa alasan :
1. Pendataan korban belum berjalan dg baik : ada warga yang berkali-kali
mengambil bantuan
2. Terlihat banyak mobil bantuan yang datang namun bantuan yang dibagikan
sangat minimal (4 botol kecap dan 5 bungkus indomie per KK)
3. Ada penampungan sementara ditinggali 30-40 orang
4. listrik dimatikan sementara oleh PLN karena banyak rumah rusak berat
5. anak2 sekolah masih mondar-mandir setiap pagi karena sekolah belum
berjalan
6. Para PNS juga belum memulai pekerjaan
7. Banyak anak dan keluarga yang terpaksa tinggal di emperan
8. Keluhan warga ditanggapi kurang simpatik oleh pengelola POSKO
9.arena tidur di emperan depan rumah, mulai banyak warga pada usia anak yang
terserang ISPA
Warga Cikelet berencana untuk membuat posko, saya minta Boy untuk
memfasilitasi terbentuknya forum warga. Katanya Boy masih ingin jadi korban
saja dan meminta beberapa relawan untuk membantu memfasilitasi terbuntuknya
Forum Warga juga ada sosialisasi SPHERE untuk mendorong partisipasi warga
korban yang lebih baik sejak dini.
Oh ya, kemarin Boy sampai harus berjalan 500 m dari rumahnya untuk membeli
beras. Biasanya dalam jarak 50 m sudah ada di warung terdekat. Ada yang
menarik dengan karakteristik warga Desa Cikelet. Meskipun dekat dengan Posko
X, namun jika Posko tsb terletak di desa lain, mereka merasa tidak berhak
untuk mendapatkan bantuan dari sana. Ini cukup menghambat penyaluran
bantuan.
Rencana Tindak lanjut KerLiP
1. kontak intensif dengan mitra yang jadi korban di Pangalengan, Garut,
Tasik, Ciamis
2. Menyebarluaskan bantuan yang diperlukan Boy dan kawan-kawan di daerah
gempa melalui email, milis, facebook, sms sejak tanggal 3 September 2009
3. Kordinasi dengan para penggiat hak anak di Kota Bandung, Sabtu 5
September 2009 untuk rekrutmen relawan
4. Membantu penyusunan laporan perkembangan dari relawan korban gempa
5. Membantu memfasilitasi partisipasi IDP's anak dan perempuan dalam
pembentukan forum warga korban bencana di Desa Cikelet mulai tanggal 6
September 2009
Bagi rekan-rekan MPBI, PMI, dan CDE lainnya yang berkenan membantu
dipersilakan menghubungi Boy Frido di 081320499220 atau titipkan bantuan ke
Dago Elos V no 423 Bandung 40135 Tlp 022-2505116 HP 081220555069 email :
rumahkerlip@gmail.com. Diperlukan buku-buku SPHERE project dan pelatihannya
untuk warga selain bantuan yang diperlukan untuk tanggap darurat.
Bantuan perdana akan diangkut pada tanggal 6 September ke Desa Cikelet jam
11.30 naik bis dari Cicaheum Bandung.
Langganan:
Postingan (Atom)