Minggu, 14 Juni 2009

Sekepicung, 12 Juni 2009

Sekira pukul 14.00 WIB saya sampai di rumah belajar Bina Bakti Persada. Belum satu orang pun warga belajar yang hadir. Sejenak saya duduk santai di sofa butut tapi masih sangat nyaman diduduki yang terdapat di tengah ruangan. Beberapa saat kemudian, Aisyah, Elis, Nurjanah, dan Ulfa berdatangan. Sebenarnya, kami berniat menunggu para warga belajar yang lain. Namun, karena waktu sudah jauh beranjak, kami pun segera memulai kegiatan
Saya membuka kegiatan. Ternyata, kami sepakat untuk belajar di tempat lain. Dan kami sepakat untuk belajar di sekretariat KerLiP yang baru di Dago Elos. Kami pun berpamitan kepada Bu Dewi, pribumi rumah belajar Bina Bakti Persada, dan langsung menuju ke Dago Elos. Di tengah jalan, kami bertemu Ova dan mengajaknya bersama kami.
Sesampainya di basecamp KerLiP, warga belajar langsung berkenalan dengan Bu Yanti KerLiP, yang kebetulan sedang sibuk dengan laptop di ruang depan. Bu Yanti langsung menyapa dan mempersilahkan warga belajar untuk masuk. Saya mengajak warga belajar ke lantai dua dan mempersilahkan warga belajar untuk menunggu dan beristirahat sebentar.
Saya menghampiri warga belajar kembali dan memandu mereka mempelajari citra diri. Di awal, saya meminta warga belajar anggota-anggota tubuh dan menjelaskan fungsinya masing-masing. Kemudian, saya minta mereka memilih salah satu alat tubuh yang paling mereka banggakan dan menjelaskan alasannya.
Setelah selesai, satu-persatu warga belajar menjelaskan gambar anggota tubuh, menjelaskan fungsi dan pilihan alat tubuh yang mereka banggakan. Semula saya berharap warga belajar dapat mengeksplorasi fungsi alat tubuh itu sebanyak-banyaknya. Sayang, kultur belajar kebanyakan kita sering berjalan lambat dan kaku. Hal itulah yang tampak pada proses belajar hari ini. Sebenarnya, kondisi seperti ini pun acapkali saya rasakan dan lakukan sendiri. Suatu kondisi belajar yang minim eksplorasi, kreativitas dan inovasi. Akhirnya melihat kondisi seperti ini, saya seakan-akan berkaca tentang diri saya sendiri. Dan kenyataan ini menjadi PR kita bersama untuk mengubahnya.
Sebelum ditutup, saya memberi sedikit tebakan tentang kecenderungan karakter setiap warga belajar. Mereka pun terpancing untuk berkomentar. Dan saya memberi suatu refleksi dari keseluruan proses belajar hari ini.

Senin, 01 Juni 2009

Catatan Forum Pendidikan Alternatif (1)

Rumah Belajar Bahtera, 31 Mei 2009

Melanjutkan pembicaraan sebelumnya di Taman Cilaki dan EEP Dago, hari ini Forum Pendidikan Alternatif bertandang ke Rumah Belajar Bahtera di kawasan Sukajadi, Bandung. Seperti yang telah dibicarakan pada pembicaraan sebelumnya, kegiatan ini diarahkan pada pembangunan jaringan dan saling berbagi antar komunitas pendidikan alternative. Sekarang, giliran Yayasan Bahtera Indonesia yang menjadi tuan rumah dialog dan memaparkan apa saja yang telah mereka lakukan selama ini. Kegiatan ini sendiri diikuti oleh beberapa komunitas pendidikan, seperti KerLiP, Kalyanamandira, Sanggar, Gita Pontianak, Walagri Tasikmalaya dan tentu saja Bahtera sebagai tuan rumah. Berikut intisari dialog yang dipandu oleh Zamzam tersebut :
Yayasan Bahtera Indonesia didirikan oleh beberapa orang guru yang mengajar di sekolah formal sejak tahun 80-an. Saat itu, mereka banyak melakukan pendampingan dan advokasi terhadap anak-anak yang orang tuanya dianggap terlibat G30S/PKI atau gerakan Darul Islam (DI). Antara tahun 1993 – 1994 mereka pun mendampingi anak-anak cacat. Baru pada tahun 1995 mereka mendirikan Yayasan Bahtera Indonesia yang banyak mengurusi anak-anak jalanan dan terlibat proyek IPEC – ILO bersama Muhammadiyyah.
Basecamp utama Bahtera bertempat di Cijerah, Bandung. Mereka melakukan pendampingan di 9 titik di Kota Bandung, seperti, di Ciroyom, Pasir Koja, Alun-alun, Stasiun Bandung, Sukajadi dan beberapa tempat lainnya. Semula semua kegiatan dilakukan di jalanan. Baru pada 1999/2000 sebagian aktivitas dilakukan di rumah singgah atau rumah belajar.
Pada masa awal pendampingan anak-anak jalanan ini, para relawan Bahtera melakukan proses penjangkauan. Proses ini dilakukan dengan cara menyimpan seorang relawan di beberapa titik tempat anak-anak jalanan berkumpul. Para relawan mengamati perilaku anak-anak, berdialog dengan mereka, sampai mencari tahu di mana mereka tinggal.
Ada beberapa cerita menarik dalam proses penjangkauan ini, khususnya yang dialami oleh Pak Maman salah seorang pendiri Bahtera. Ketika beliau melakukan pengamatan anak-anak di jalanan, ia sempat disatroni oleh seorang kepala preman. Namun, setelah dijelaskan si preman itu malah mendukung kegiatan ini. Kejadian menarik pun terjadi ketika Bahtera mulai masuk di kawasan Sukajadi. Hampir 3 bulan setelah Pak Maman dan kawan-kawan tinggal di kawasan ini, para warga lebih sering menutup pintu mereka karena mereka merasa khawatir dan takut. Selidik punya selidik, ternyata mereka melihat tampang Pak Maman mirip kepala tibum (Satpol PP). Namun, setelah melakukan dengan warga dan pemerintah setempat akhirnya Bahtera dapat diterima di kawasan ini.
Selain dilakukan di jalanan, sekarang ini proses pendampingan pun dilakukan di rumah belajar. Di rumah belajar ini anak-anak dapat belajar apa saja yang mereka sukai. Anak-anak pun diikut sertakan ke dalam Kelas Layanan Khusus (KLK) sebagai wahana transisional sebelum anak-anak merasa siap masuk kelas regular/formal. Semula Bahtera hanya menargetkan anak-anak dapat menulis dan membaca saja. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan berbagai tuntutan, anak-anak pun diikut sertakan dalam program kesetaraan baik Paket A, Paket B sampai Paket C.
Selain pendampingan anak di jalanan dan rumah belajar, pendampingan pun dilakukan dengan cara home visit, yaitu dengan cara mengungjungi orang tua anak. Hal ini dilakukan agar orang tua mengetahui perkembangan anak-anak mereka yang lebih banyak hidup di jalan. Di samping itu, kegiatan ini pun diarahkan pada pemberdayaan para orang tua.
Pola pendampingan yang dilakukan Bahtera didasarkan pada kesepakatan bersama anak. Kesepakatan ini termasuk pada penyusunan modul-modul pembelajaran. Di samping penyusunan modul-modul ini, Bahtera pun mendampingi anak-anak untuk menulis beberapa literasi jalanan. Literasi jalanan yang ditulis anak-anak dalam perkembangannya sekarang telah dapat dibukukan. Bahtera pun melakukan pendampingan dalam penanganan kasus HIV/AIDS dengan beberapa pelatihan kesehatan reproduksi bagi anak. Bahtera pun acapkali mengadakan Pekan Hari Anak. Sejauh ini, Bahtera mendampingi ± 600 orang anak di sekitar Bandung.
Di akhir dialog muncul beberapa catatan bersama tentang proses yang telah banyak dilakukan oleh komunitas-komunitas pendidikan alternative. Sebagian besar komunitas mempunyai kelemahan di sisi dokumentasi dan analisa program, sehingga seringkali komunitas memulai segalanya dari nol apabila terjadi pergantuan kepengurusan. Komunitas-komunitas ini pun merasa perlu ada panduan bersama yang dapat dipergunakan oleh komunitas mana pun yang mempunyai concern yang sama di bidang pendidikan. Setiap komunitas pun perlu melakukan rekam jejak eksistensi mereka sejak awal berdiri sampai sekarang. (izoel_KerLiP)

Sekepicung, 29 Mei 2009

Sudah dua kali pertemuan saya tidak turut mendampingi warga belajar di daerah Cibacang - Sekepicung. Baru hari ini saya bisa mendampingi bersama Ova dan Wika. Saya datang di rumah belajar Bina Bakti Persada lebih awal sekira jam 2 siang. Baru Ova, Elis, Wika dan warga belajar lainnya secara berturut-turut datang ke rumah belajar.
Ova membukan kegiatan dengan salam dan review kegiatan sebelumnya. Hari ini, Ova meminta para warga belajar untuk menceritakan kembali kegiatan pada hari rabu 27 Mei, dua hari yang lalu. Pada hari itu, Ova mengajak para warga belajar untuk ikut belajar bersama komunitas Sahabat Kota di kawasan Sekeloa – Dipati Ukur.
Sebelum setiap warga belajar menceritakan kembali kegiatan pada hari Rabu, Ova mempersilahkan Rosmawati, salah seorang warga belajar yang baru hari ini ikut pendampingan, untuk memperkenalkan diri kepada seluruh yang hadir di rumah belajar. Setelah itu, Ova meminta setiap orang untuk mengungkapkan perasaan yang dirasakan pada saat memulai proses pendampingan sekarang dengan satu kata. Dan secara bergantian kami mengungkapkan perasaan kami dengan satu kata.
Selanjutnya, setiap warga belajar mulai menuliskan kesan dan persepsi mereka tentang kegiatan belajar bersama komunitas Sahabat Kota pada hari Rabu 27 Mei kemarin lusa. Mereka cukup antusias meski tak banyak yang mereka tulis karena bingung mereka mau cerita apa. Tampaknya, mereka merasa senang dengan kegiatan hari rabu kemarin.
Setelah menunggu hampir setengah jam, barulah satu-persatu warga belajar menceritakan kegiatan kemarin. Agus atau sering dipanggil Itok, mulai bercerita di hadapan kami. Menurutnya, pada kegiatan kemarin, warga belajar diajak untuk turut belajar di kawasan sekeloa depan pom bensin Dipati Ukur. Di sana mereka diminta untuk membuat maket bangunan yang belum ada di kota Bandung. Ternyata, kata Itok, impian setiap orang itu berbeda-beda. Itok sendiri memimpikan dibangun candi di kota Bandung ini. Sebuah harapan yang unik, bukan?
Agus menunjuk Samsam untuk melanjutkan cerita. Samsam merasa senang dengan kegiatan kemarin karena ia dan teman-teman dapat berkenalan dengan orang-orang baru dari komunitas lain. Ia pun dapat sedikit belajar tentang arsitektur. Samsam dan teman-teman lainnya diminta untuk membuat sebuah maket bangunan secara berkelompok.
Giliran Nurjanah yang bercerita. Ia tidak banyak bercerita hanya mengungkapkan kesannya terhadap kegiatan kemarin. Ia merasa senang dengan kegiatan kemarin, karena ia mendapatkan pengetahuan baru dan kawan-kawan baru dari komunitas Sahabat Kota.
Nurjanah menunjuk Ulfa untuk melanjutkan cerita. Ulfa merasa senang dengan kegiatan kemarin karena ia mendapat ilmu tentang arsitektur. Lebih menyenangkan lagi katanya, ketika ia dan teman-teman sekolompoknya bersama-sama membuat maket sambil diselingi canda-tawa. Ketika maket hasil kerja kelompok itu dipresentasikan kepada teman-teman yang lain, hasilnya cukup bagus. Ulfa berharap, semoga maket buatan kelompoknya itu dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Elis melanjutkan cerita. Semula dalam kegitan kemarin itu, ia merasa mengantuk. Kegiatan mulai meriah ketika ia dan teman-teman belajar membuat maket sambil bermain. Elis pun dapat mengetahui bangunan atau tempat yang diidamkan teman-teman. Dan kita bisa membuat sesuatu dengan apa saja yang ada di sekitar kita.
Aep, Adi dan Asep secar bergantian dan saling menimpali sama lain dengan canda mengungkapkan kesan-kesan mereka terhadap kegiatan kemarin. Menurut mereka, kegiatan kemarin itu cukup menyenangkan meski agak membingungkan. Mereka dapat berkenalan dengan teman-teman baru dan bisa saling bekerjasama. Adi dan kelompoknya membuat maket sebuah taman, adapun Asep membuat kereta gantung yang berpusat di terminal Cicaheum.
Ova pun tak ketinggalan untuk bercerita. Ia sengaja mengajak warga belajar ke Dipati Ukur, karena ia ingin mempelajari hah-hal baru khususnya bidang arsitektur. Ternyata belajar arsitektur tidak serumit yang selama ini ia bayangkan. Menurut Ova, kita bisa belajar dengan segala hal yang ada di sekitar kita. Dalam kegiatan kemarin, kita bisa berinteraksi dengan teman-teman baru. Bersama kelompoknya, Ova membuat maket Dago Tea House dengan beberapa pengembangan. Masih menurut Ova, dengan suatu simulasi dan ruang kebebasan berkreasi yang sangat terbuka seperti pada kegiatan kemarin, ide, kreativitas dan inovasi kita dapat mengalir dengan deras.
Ova : saya ingin belajar, khususnya tentang arsitektur. Ternyata belajar arsitektur tidak serumit yang selama ini saya bayangkan. Kita bisa belajar dengan apa yang ada di sekitar kita. Kita bisa berinteraksi dengan teman-teman baru. Kita bermimpi mengembangkan Dago Tea House. Semua ide dan kreativitas kita bisa mengalir deras.
Terakhir, secara bergantian Nurhayati dan Aisyah mengungkapkan kesan-kesan mereka tentang kegiatan kemarin. Keduanya merasa senang dengan kegiatan kemarin, karena mereka dapat belajar bersama dengan segala hal yang ada di sekitar kita. Akan sangat menyenangkan bila hasil yang kita buat sesuai dengan rencana sebelumnya. Proses belajar yang unik karena kita bisa belajar arsitektur, khususnya membuat maket, dengan apa saja yang ada di sekitar kita.
Setelah semuanya bercerita, Ova menutup kegiatan dengan suatu refleksi. Di akhir kegiatan, Pak Lala mengumumkan tentang akan diadakannya latihan keterampilan elektronik di rumah belajar Bina Bakti Persada pada setiap hari Sabtu.
Page Rank Check,
HTML Web Counter